Biaya Operasional Capai Rp1–2 Miliar Sebulan, Ipda Purnomo Tetap Tegakkan Niat Tanpa Keuntungan Pribadi

LAMONGAN,Berkasbersinar.id 02 Oktober 2026 — Di balik viralnya sosok Ipda Purnomo, perwira polisi asal Kabupaten Lamongan yang dikenal luas lewat gerakan kemanusiaan merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), tersingkap sisi pengabdian yang mendalam. Kedatangan petugas instansi pemerintah pusat yang memeriksa aktivitas media sosialnya justru membuka tabir besarnya beban dan ketulusan di balik panti sosial yang ia kelola.
Ditemui di yayasannya, Kamis sore (1/10/2026), Ipda Purnomo menceritakan rasa terkejutnya saat baru pulang dinas dan mendapati dua orang petugas perempuan menyodorkan pertanyaan mendetail serta berkas isian terkait aktivitas digitalnya.
“Kemarin sore saya pulang dinas sekitar jam 4 sore. Ada dua orang perempuan dari instansi pemerintah pusat yang bertugas di wilayah Lamongan. Mereka membawa surat tugas, namun di lembar isian itu tidak tercantum nama saya,” ungkap Ipda Purnomo.
Pemeriksaan tak hanya menyoal nominal pendapatan dari kanal YouTube, melainkan juga mencecar rincian biaya pembuatan setiap konten kemanusiaan. Dari situlah terungkap fakta: biaya operasional aksi sosial yang ia jalani jauh melampaui pendapatan yang diterima dari platform digital.
“Saya sampaikan, kalau hanya menangani orang gangguan jiwa di jalan ya relatif murah. Tapi kalau bertemu warga terlantar hingga memberikan beasiswa pendidikan, biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Semua itu jelas tidak cukup kalau hanya mengandalkan konten. Beruntung banyak orang baik yang ikut mendukung kegiatan saya,” tuturnya.
Publik jarang mengetahui bahwa setiap bulan, yayasan yang dipimpinnya membutuhkan dana operasional berkisar Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan penuh untuk merawat 512 ODGJ, menyediakan tempat tinggal layak, layanan kesehatan, hingga rehabilitasi sosial secara cuma-cuma.
Agar niat tulusnya tidak disalahartikan atau dipersangkakan mencari keuntungan pribadi, Ipda Purnomo mengambil keputusan tegas: mematikan fitur monetisasi (AdSense) pada akun YouTube miliknya.
“Saya putuskan untuk mematikan monetisasinya agar niat hati saya tetap terjaga. Jadi tidak ada lagi anggapan bahwa Purnomo membuat konten hanya untuk mencari penghasilan. Saya ingin saluran YouTube ini murni menyiarkan pesan kebaikan dan menginspirasi banyak orang,” tegasnya.
Sebagai bentuk transparansi dan menjaga kepastian hukum, perwira ini juga menyerahkan seluruh akses akun digital serta rekening yayasan untuk diperiksa. Ia memastikan seluruh pendapatan AdSense yang pernah diterima telah disalurkan sepenuhnya ke rekening resmi yayasan demi kepentingan para penghuni panti.
Keputusan tulus Ipda Purnomo kini memicu gelombang simpati dan dukungan luas dari berbagai kalangan, termasuk Kementerian Kesehatan hingga pimpinan kepolisian, agar gerakan mulia merawat ratusan ODGJ di Lamongan terus berjalan.
(Tim)